PEMBENCI

1001173549
poster naskah esai Pembenci (foto: borobudurchanel)
banner 468x60

Sebab ada kenikmatan tertentu ketika seseorang menjadi oposisi.

BOROBUDURCHANEL – Saya sudah capek menjadi pembenci.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Sudah dua periode saya menjadi pembenci.

Pagi-pagi bangun, yang saya cari adalah kesalahanmu. Siang hari, kalau ada kebijakanmu yang meleset sedikit saja, mulut saya sudah gatal. Malam hari, sebelum tidur, saya masih sempat membuka telepon genggam hanya untuk memastikan: hari ini apa lagi yang bisa saya benci?

Begitulah hidup saya selama bertahun-tahun.

Orang mengira saya gagah.

Saya sendiri kadang juga mengira begitu.

Bukankah menjadi pembenci kekuasaan itu pekerjaan yang mulia?

Kekuasaan perlu diawasi. Penguasa perlu dicurigai. Negara harus punya orang-orang yang berani berkata tidak ketika semua orang sedang berkata iya.

Saya pernah percaya sepenuhnya pada kalimat-kalimat semacam itu.

Saya bahkan pernah menganggap kebencian sebagai semacam seragam.

Saya mengenakannya setiap hari.

Ke mana-mana.

Sampai orang tidak lagi tahu mana saya dan mana kebencian saya.

Kalau saya datang ke warung kopi, orang tidak bertanya, “Bagaimana kabarmu?”

Mereka bertanya, “Sekarang mau membenci apa?”

Saya tertawa.

Dulu saya kira itu lucu.

Sekarang tidak lagi.

Sebab usia ternyata mempunyai cara yang pelan tetapi kejam untuk mengajari manusia tentang kelelahan.

Saya sudah tua.

Saya ingin hidup tenang.

Saya ingin pagi yang biasa.

Bangun, minum kopi, melihat tanaman di halaman, membaca koran, lalu sesekali bertengkar dengan tetangga karena kambing masuk kebun.

Saya tidak ingin lagi ada lembaga botol Aqua.

Tidak ingin ada orang yang mencaci maki.

Tidak ingin setiap kalimat saya dipotong menjadi potongan video tiga puluh detik, lalu disebarkan dengan judul yang membuat saya tampak seperti orang paling marah sedunia.

Saya ingin hidup normal.

Masalahnya, batin saya tidak pernah normal.

Di dalam dada masih ada seorang lelaki muda yang belum selesai berkelahi.

Ia masih berteriak.

Ia masih menunjuk-nunjuk Istana.

Ia masih yakin bahwa negara akan menjadi baik kalau semua orang mau berpikir.

Tetapi tubuh saya sudah mengatakan hal lain.

Sudah cukup.

Duduklah.

Minumlah kopi.

Diam sebentar.

Barangkali dunia tidak akan runtuh hanya karena hari ini kau tidak mencaci seorang presiden.


Saya pernah berada pada zaman ketika membenci pemerintah terasa seperti kewajiban moral.

Presidennya bernama Jokowi.

Dua periode.

Sepuluh tahun.

Dan selama itu saya menemukan terlalu banyak alasan untuk marah.

Saya mengkritik.

Saya mengejek.

Saya berdebat.

Saya bicara tentang demokrasi, kebebasan, kekuasaan, oligarki, hukum, dan segala macam perkara yang biasanya membuat orang tidak betah duduk lama-lama di warung kopi.

Saya merasa sedang menjaga republik.

Mungkin memang begitu.

Mungkin juga saya sedang menjaga diri sendiri.

Sebab ada kenikmatan tertentu ketika seseorang menjadi oposisi.

Ia tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang dilakukan pemerintah.

Cukup menemukan kesalahan.

Cukup menunjuk.

Cukup berkata, “Saya sudah bilang.”

Kalimat terakhir itu adalah narkoba yang paling murah bagi seorang pengkritik.

Saya sudah bilang.

Saya sudah bilang dari dulu.

Saya sudah mengingatkan.

Kalau kemudian benar, ia merasa menang.

Kalau salah, ia tinggal mencari kesalahan lain.

Begitulah oposisi kadang bekerja.

Ia hidup dari kemungkinan bahwa pemerintah keliru.

Dan pemerintah, sebaliknya, hidup dari harapan bahwa pengkritiknya akan keliru.

Keduanya bertemu di layar televisi.

Saling menyalak.

Lalu pulang membawa uang.

Yang tidak pulang ke mana-mana adalah kebenaran.

Ia tertinggal di studio.


Barangkali Karl Marx benar ketika melihat kekuasaan politik bukan sebagai sesuatu yang netral. Dalam Manifesto Komunis, Marx dan Engels menulis bahwa kekuasaan politik, dalam pengertian tertentu, merupakan kekuasaan terorganisasi suatu kelas atas kelas lain.

Saya dulu membaca kalimat itu seperti orang membaca papan pengumuman.

Sekarang saya membacanya seperti orang tua membaca surat wasiat.

Sebab semakin tua seseorang, semakin ia tahu bahwa kekuasaan tidak pernah sesederhana siapa yang duduk di kursi.

Yang lebih penting adalah:

siapa yang dapat memengaruhi kursi itu?

Siapa yang dapat mendekatinya?

Siapa yang bisa mengetuk pintunya?

Siapa yang hanya bisa melihat dari luar pagar?

Dan siapa yang setiap malam merasa dirinya sudah berada di pusat kekuasaan, padahal sebenarnya cuma berdiri di depan televisi sambil berteriak?

Itulah sebabnya saya dulu begitu keras.

Saya takut kekuasaan menjadi terlalu besar.

Saya takut orang-orang di sekeliling kekuasaan berhenti mengatakan tidak.

Tetapi kemudian saya menemukan pertanyaan lain yang lebih mengganggu:

Apa jadinya seorang pengkritik kalau seluruh hidupnya hanya dihabiskan untuk mengatakan tidak?

Bukankah akhirnya ia juga menjadi sebuah kekuasaan kecil?

Kekuasaan atas mikrofon.

Kekuasaan atas opini.

Kekuasaan atas kemarahan orang lain.

Kekuasaan atas penonton.

Dan kekuasaan, sekecil apa pun, tetap mempunyai godaan.


Kemudian datang pemerintahan baru.

Namanya Prabowo.

Dan anehnya, saya mulai diam.

Orang-orang bingung.

“Kenapa sekarang tidak segalak dulu?”

Saya pura-pura tidak mendengar.

Tetapi pertanyaan itu sebenarnya sudah lama saya dengar dari dalam kepala sendiri.

Mengapa?

Apakah saya berubah?

Apakah Prabowo menjadi lebih baik?

Apakah saya menjadi lebih buruk?

Atau jangan-jangan saya hanya lelah?

Ada umur tertentu ketika manusia tidak lagi ingin memenangkan perdebatan.

Ia ingin memenangkan pagi.

Ingin bisa bangun tanpa perasaan marah.

Ingin melihat matahari tanpa merasa harus mencari siapa yang harus disalahkan.

Pada umur muda, kita ingin mengubah negara.

Pada umur tua, kadang kita hanya ingin negara berhenti mengubah kita menjadi orang lain.


Orang-orang lalu menuduh saya berubah.

Itu tuduhan yang menarik.

Sebab bagi orang banyak, konsistensi sering kali berarti membenci orang yang sama dengan cara yang sama sampai mati.

Kalau dulu saya membenci Jokowi, sekarang saya harus membenci Prabowo.

Kalau tidak, berarti saya pengkhianat.

Begitu rupanya politik bekerja di kepala sebagian orang.

Kesetiaan bukan lagi kepada prinsip.

Kesetiaan adalah kepada musuh.

Maka ketika musuh berganti, mereka panik.

Mereka kehilangan identitas.

Saya memahami mereka.

Dulu saya juga begitu.

Saya pernah mengira seorang pengkritik harus selalu berada di luar pagar.

Saya baru sadar, ternyata pagar bukan ukuran keberanian.

Kadang keberanian justru diperlukan ketika kita sudah berada di dalam.

Sebab di luar pagar, kita bebas berteriak.

Di dalam pagar, setiap kata mempunyai akibat.


Saya kemudian teringat Mahatma Gandhi.

Gandhi mempunyai pandangan yang hampir berlawanan dengan naluri politik yang saya kenal.

Baginya, kekuasaan politik bukan tujuan akhir. Kekuasaan hanyalah sarana untuk memperbaiki kehidupan manusia.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi justru karena sederhana, ia menyakitkan.

Sebab berapa banyak orang yang mula-mula mengejar kekuasaan sebagai alat, lalu perlahan-lahan menjadikan alat itu sebagai tujuan?

Berapa banyak orang yang mula-mula ingin memperbaiki negara, kemudian sibuk mempertahankan kursinya?

Berapa banyak orang yang mula-mula ingin melawan kekuasaan, lalu ketika pintu kekuasaan terbuka, mereka masuk dan lupa mengapa dahulu berdiri di luar?

Gandhi juga mengingatkan bahwa cara dan tujuan tidak bisa dipisahkan. Ia menggunakan perumpamaan benih dan pohon: cara yang kita pilih akan menentukan apa yang tumbuh darinya.

Saya lama sekali memahami kalimat itu.

Sebab seorang pembenci sering mengira bahwa tujuannya mulia sehingga segala cara menjadi halal.

Marah demi demokrasi.

Menghina demi kebebasan.

Mencaci demi kebenaran.

Menjatuhkan orang demi menyelamatkan negara.

Padahal kalau benihnya kebencian, pohon yang tumbuh mungkin juga kebencian.

Kita tidak bisa menanam dendam lalu berharap memanen kedamaian.


Lalu saya membaca Che Guevara.

Lelaki yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai revolusioner itu berbicara tentang sesuatu yang justru terasa sangat dekat dengan persoalan saya: manusia baru.

Ia percaya perubahan masyarakat juga menuntut perubahan manusia. Dalam salah satu tulisannya, ia bahkan mengajak orang meninjau kembali kehidupan dan pikirannya sendiri untuk membentuk manusia yang baru.

Saya berhenti cukup lama pada gagasan itu.

Barangkali selama ini saya sibuk ingin mengganti presiden.

Tetapi lupa mengganti diri sendiri.

Saya ingin sistem berubah.

Tetapi saya tidak pernah bertanya apakah cara saya memandang sistem juga perlu berubah.

Saya ingin kekuasaan berubah.

Tetapi saya tidak pernah bertanya apakah saya sendiri telah kecanduan kekuasaan kecil yang diberikan oleh kamera dan mikrofon.

Saya ingin negara menjadi dewasa.

Tetapi saya sendiri masih gampang marah ketika pendapat saya dibantah.

Bukankah itu lucu?

Seorang manusia berteriak meminta revolusi, sementara di dalam dirinya sendiri masih ada kerajaan kecil yang tidak boleh dibantah.


Suatu sore seorang kawan datang.

Ia duduk di depan saya.

“Mas, sampeyan sekarang kok lunak?”

Saya mengaduk kopi.

“Memangnya dulu saya batu?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Dulu kalau pemerintah salah sedikit, sampeyan langsung ngamuk.”

Saya tertawa.

“Sekarang?”

“Sekarang sampeyan malah masuk Istana.”

Saya diam.

Ada beberapa pertanyaan yang tidak perlu segera dijawab.

Sebab jawaban yang terlalu cepat biasanya cuma pembelaan.

Saya menatap halaman.

Ada daun kering jatuh.

Tidak ada yang memberinya pidato.

Tidak ada televisi yang meliput.

Daun itu jatuh karena memang sudah waktunya jatuh.

“Barangkali,” kata saya kemudian, “saya sudah tidak punya tenaga untuk membenci.”

Kawan saya tertawa.

Saya ikut tertawa.

Tetapi setelah ia pulang, kalimat itu tinggal sendirian di kepala saya.

Tidak punya tenaga untuk membenci.

Apakah itu kelemahan?

Atau justru kedewasaan?

Saya tidak tahu.


Saya kemudian teringat seorang lelaki yang selama bertahun-tahun dikenal publik sebagai pengkritik keras Jokowi.

Rocky.

Ia pernah mengatakan dirinya akan tetap mengkritik siapa pun yang berkuasa. Kini, ketika ia berada di lingkungan kekuasaan melalui posisi Wantimpres, pertanyaan tentang konsistensi itu menjadi menarik bukan hanya untuk Rocky, tetapi untuk siapa saja yang pernah menjadi pengkritik kekuasaan.

Sebab posisi baru tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang telah meninggalkan prinsip lamanya.

Tetapi posisi baru juga menguji apakah prinsip itu benar-benar masih hidup.

Di luar Istana, mengatakan “jangan” relatif mudah.

Di dalam Istana, mengatakan “jangan” ketika semua orang mengatakan “silakan” mungkin jauh lebih sulit.


Saya mulai curiga jangan-jangan selama ini saya salah mengartikan kebebasan.

Saya kira bebas berarti boleh mengatakan apa saja.

Ternyata bebas juga berarti bersedia mendengarkan jawaban.

Saya kira kritis berarti menolak.

Ternyata kritis bisa berarti menerima, lalu bertanya.

Saya kira oposisi adalah pekerjaan seumur hidup.

Ternyata oposisi hanyalah posisi.

Prinsiplah yang seharusnya menjadi rumah.

Dan rumah tidak selalu berada di seberang Istana.


Malam itu saya kembali membuka telepon genggam.

Ada seseorang yang menulis:

“Dulu paling keras. Sekarang sudah jinak.”

Saya membaca dua kali.

Lalu saya tersenyum.

Saya ingin membalas.

Jari saya sudah mengetik beberapa kata.

Kemudian saya hapus.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, saya memilih tidak menjawab.

Ternyata diam juga sebuah pilihan politik.

Bahkan mungkin pilihan politik yang paling mahal bagi seorang pembenci.

Sebab pembenci hidup dari respons.

Ia ingin diserang agar bisa menyerang balik.

Ia ingin dicaci agar bisa menunjukkan bahwa dirinya benar.

Ia ingin musuh agar hidupnya terasa mempunyai arti.

Ketika musuh tidak datang, ia bingung harus menjadi siapa.

Saya meletakkan telepon.

Saya pergi ke dapur.

Membuat kopi.

Kemudian duduk di teras.

Malam turun pelan-pelan.

Tidak ada demonstrasi.

Tidak ada kamera.

Tidak ada mikrofon.

Tidak ada botol Aqua.

Tidak ada orang berteriak.

Hanya suara jangkrik.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya merasa republik baik-baik saja tanpa perlu saya marahi malam itu.


Saya lalu teringat satu kalimat Gandhi lagi.

Kekuasaan yang bersandar pada rasa takut berbeda dengan kekuasaan yang tumbuh dari dalam diri manusia. Gandhi bahkan menilai kekuatan yang lahir dari cinta jauh lebih efektif dan tahan lama daripada kekuatan yang berdiri di atas ketakutan.

Saya tidak tahu apakah saya sudah sampai ke sana.

Barangkali belum.

Saya masih bisa marah.

Masih bisa kecewa.

Masih bisa curiga.

Tetapi setidaknya saya mulai belajar bahwa kemarahan tidak selalu sama dengan keberanian.

Dan kebencian tidak selalu sama dengan kritik.

Ada kritik yang lahir dari cinta kepada negara.

Ada kritik yang lahir dari kebutuhan untuk tetap menjadi pusat perhatian.

Keduanya bisa terdengar sama kerasnya.

Hanya hati yang tahu bedanya.


Saya menarik napas panjang.

Barangkali inilah yang disebut tua.

Bukan rambut putih.

Bukan lutut yang mulai sakit.

Bukan kacamata yang makin tebal.

Tua adalah ketika seseorang akhirnya mengerti bahwa tidak semua hal harus dilawan.

Tetapi juga tidak semua hal boleh dibiarkan.

Di antara keduanya ada sesuatu yang lebih sulit daripada kebencian:

kebijaksanaan.

Saya belum tentu memilikinya.

Tetapi setidaknya saya mulai mencarinya.

Saya sudah capek menjadi pembenci.

Dua periode sudah cukup.

Kalau besok pemerintah salah, mungkin saya akan bicara.

Kalau benar, mungkin saya akan mengakuinya.

Dan kalau saya tidak tahu?

Saya akan mengatakan:

“Saya tidak tahu.”

Ternyata tiga kata itu lebih sulit diucapkan daripada seribu kata makian.

Tetapi mungkin justru di situlah manusia mulai menjadi manusia.

Saya ingin hidup tenang.

Bukan karena saya sudah berhenti peduli.

Justru karena saya masih peduli.

Hanya saja sekarang saya tahu:

negara tidak membutuhkan orang yang membenci pemerintah setiap pagi.

Negara membutuhkan orang yang tetap waras ketika pemerintah benar.

Dan tetap berani ketika pemerintah salah.

Selebihnya, biarlah kopi mendingin.

Umur saya sudah tidak panjang.

Saya ingin menghabiskannya bukan sebagai pembenci.

Melainkan sebagai manusia.

Yang sesekali marah.

Sesekali salah.

Sesekali diam.

Dan kalau perlu,

sesekali masuk ke dalam ruangan,

hanya untuk berkata kepada kekuasaan:

“Jangan lupa, di luar sana masih ada rakyat.” ***


aris munandar, editor

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *