JAKARTA, Borobudurchanel — Peta kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU tidak hanya memperlihatkan keragaman latar belakang pesantren dan pendidikan, tetapi juga rentang usia serta profil kekayaan yang berbeda.
Delapan nama yang disebut dalam bursa kandidat utama Ketua Umum PBNU 2026-2031 ini memiliki pengalaman dan basis pesantren yang beragam. Dari sisi pendidikan, sebagian kandidat menempuh pendidikan tinggi di dalam maupun luar negeri, sementara lainnya lebih kuat ditempa melalui jalur pendidikan pesantren.
Latar belakang pendidikan formal, usia dan kekayaan para kandidat yang berpeluang menakhodai PBNU kembali menjadi sorotan tajam. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi NU pada abad kedua, muncul pandangan bahwa rekam jejak perpaduan pendidikan akademik dan pendidikan pesantren dapat menjadi salah satu aspek yang paling layak dipertimbangkan, meski bukan faktor penentu utama. Kemandirian finansial dari tiap kandidat juga menjadi sorotan tajam di tengah merebaknya isu risywah menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
Berdasarkan penelusuran awal tim Presidium Independen Muktamar ke-35 NU terhadap riwayat pendidikan formal, usia dan kekayaan sejumlah nama yang kerap disebut dalam bursa Ketua Umum PBNU, terlihat keragaman jalur pendidikan dan pengalaman pesantren. Ada kandidat yang menempuh pendidikan hingga tingkat doktoral di dalam dan luar negeri, sementara sebagian lainnya tumbuh melalui tradisi pendidikan pesantren.
Dari sisi usia, kandidat berada dalam rentang 49 hingga 68 tahun. Sementara dari sisi kekayaan, data yang tersedia hanya KH Nasaruddin Umar. Untuk kandidat lainnya, belum terdapat data atau catatan resmi yang dicantumkan. Biarpun bukan menjadi syarat wajib bagi kandidat untuk menyodorkan laporan harta, hal ini tetap menjadi poin penting untuk disampaikan secara terbuka demi menepis persepsi publik adanya penggunaan dana luar dalam kampanye kandidat dan merebaknya dugaan praktek jual beli suara.
Berikut profil singkat delapan kandidat Ketum PBNU:
1. KH Nasaruddin Umar
Usia: 67 tahun, lahir 23 Juni 1959
Pendidikan: S1 IAIN Alauddin Ujung Pandang; S2 dan S3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Basis pesantren: Pengasuh Pondok Pesantren As’adiyah, Sulawesi Selatan.
Harta kekayaan: Sekitar Rp98,9 miliar.
Kiai Nasaruddin Umar merupakan alumni Ponpes As’adiyah, Sulawesi Selatan, kandidat dengan latar akademik yang kuat. Sosok ulama sekaligus umara. Catatan harta Prof Nasaruddin berasal dari akumulasi kariernya sebagai akademisi, Imam Besar Masjid Istiqlal, hingga pejabat negara.
2. KH Yahya Cholil Staquf
Usia: 60 tahun, lahir 16 Februari 1966
Pendidikan: S1 Universitas Gadjah Mada, tidak selesai.
Basis pesantren: Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang.
Harta kekayaan: Tidak ditemukan data atau catatan resmi.
Gus Yahya alumni Ponpes Al-Munawwir Krapyak Yogya, sosok berpengalaman dalam organisasi di lingkungan NU. Gus Yahya sebagai petahana juga dikenal memiliki jaringan global yang kuat dalam mengkampanyekan Humanitarian Islam.
3. KH Abdul Hakim Mahfudz
Usia: 68 tahun, lahir 17 Agustus 1958
Pendidikan: Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta dan Universitas Terbuka.
Basis pesantren: Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Harta kekayaan: Tidak ditemukan data atau catatan resmi.
Gus Kikin alumni Ponpes Seblak asuhan ayahandanya sendiri, sosok kandidat paling senior secara usia, memiliki keterkaitan kuat dengan salah satu pusat tradisi intelektual dan kepesantrenan penting dalam sejarah NU. Sebelum aktif di NU, dikenal sebagai pengusaha tambang.
4. KH Imam Jazuli
Usia: 50 tahun, lahir 17 November 1976
Pendidikan: S1 Universitas Al-Azhar, Mesir; S2 dan S3 Universiti Malaya.
Basis pesantren: Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon.
Harta kekayaan: Tidak ditemukan data atau catatan resmi.
Kiai Imjaz alumni Ponpes Lirboyo Kediri, memiliki latar pendidikan kombinasi unik di pesantren dan pengalaman akademik internasional, dikenal sebagai kiai dan pengusaha muda sekaligus arsitek peta jalan abad kedua NU dan tokoh transformasi pesantren di Indonesia.
5. KH Zulfa Mustofa
Usia: 49 tahun, lahir 7 Agustus 1977
Pendidikan: MTs/MA sederajat.
Basis pesantren: Pengasuh Majelis Taklim Darul Mustofa, Jakarta.
Harta kekayaan: Tidak ditemukan data atau catatan resmi.
Kiai Zulfa Mustofa alumni Ponpes Maslakul Huda Pati, merepresentasikan jalur kaderisasi keagamaan yang tumbuh kuat melalui pendidikan dan aktivitas dakwah berbasis majelis taklim. Selain aktif berorganisasi, ia juga dikenal sebagai sastrawan, penyair ulung, dan penulis kitab.
6. KH Yusuf Chudlori
Usia: 53 tahun, lahir 9 Juli 1973
Pendidikan: MA sederajat.
Basis pesantren: Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang.
Harta kekayaan: Tidak ditemukan data atau catatan resmi.
Gus Yusuf alumni Ponpes Lirboyo, dikenal sebagai tokoh muda yang memiliki pergaulan kuat di kalangan pengusaha, seniman, politisi dan aktifis pemberdayaan masyarakat.
7. KH Abdussalam Shohib
Usia: 49 tahun, lahir 26 Februari 1977
Pendidikan: MTs/MA sederajat.
Basis pesantren: Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
Harta kekayaan: Tidak ditemukan data atau catatan resmi yang dicantumkan dalam bahan ini.
Gus Salam alumni Ponpes Al-Falah Ploso Kediri, sekaligus memiliki basis utama di lingkungan pesantren Denanyar, salah satu pesantren yang memiliki hubungan historis kuat dengan perkembangan NU. Dikenal sebagai kiai muda progresif.
8. KH Abdul Ghaffar Rozin
Usia: 50 tahun, lahir 31 Juli 1976
Pendidikan: S1 STAI Al-Aqidah Jakarta; S2 Monash University; S3 UIN Semarang.
Basis pesantren: Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Pati.
Harta kekayaan: Tidak ditemukan data atau catatan resmi.
Gus Rozin alumni Ponpes Maslakul Huda ini memiliki pendidikan tinggi internasional, sosok kiai muda yang memiliki pengalaman beragam di organisasi NU dan figur yang fokus pada modernisasi tata kelola pendidikan Islam di Indonesia
Tradisi Pesantren Tetap Menjadi Pertimbangan Utama
Dalam sejarah Nahdlatul Ulama, pendidikan formal bukanlah faktor yang paling dominan dalam menentukan Ketua Umum PBNU. Organisasi yang lahir dari tradisi ulama ini lebih menitikberatkan kapasitas keilmuan yang ditempa melalui pesantren.
Pesantren selama ini dipandang sebagai pusat pengembangan ilmu-ilmu keislaman sekaligus tempat pembentukan karakter kepemimpinan para kiai. Karena itu, mayoritas peserta muktamar atau muktamirin cenderung memberikan perhatian lebih besar terhadap rekam jejak keilmuan pesantren dibandingkan latar belakang akademik di perguruan tinggi.
Meski demikian, berkembang pandangan bahwa NU di abad kedua kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan, transformasi sosial, hingga dinamika global menuntut organisasi memiliki kemampuan beradaptasi.
Karena itu, banyak kalangan menilai perpaduan antara pengalaman pesantren dan pendidikan formal kandidat dapat menjadi nilai lebih bagi calon pemimpin PBNU.
Latar belakang akademik dinilai berpotensi memperkuat kemampuan dalam membangun tata kelola organisasi, merumuskan kebijakan berbasis riset, memperluas jejaring internasional, serta menjawab berbagai persoalan yang muncul di era modern.
Di sisi lain, tradisi pesantren tetap dipandang sebagai fondasi utama yang tidak dapat dipisahkan dari karakter kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Sebagian pihak menilai rekam jejak akademik menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan zaman. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa kapasitas kepemimpinan, kedalaman ilmu agama, pengalaman organisasi, serta penerimaan dari kalangan pesantren tetap menjadi faktor yang lebih menentukan.
Perdebatan konstruktif tersebut menunjukkan bahwa proses memilih Ketua Umum PBNU tidak hanya berkaitan dengan basis pesantren, tetapi juga menyangkut kemampuan memadukan tradisi keilmuan dan kecakapan organisasi dengan kebutuhan organisasi di era modern. Pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan para muktamirin yang akan menentukan sosok pemimpin NU untuk membawa organisasi memasuki babak baru pada abad keduanya. (*)










